Memahami Model Franchise Makanan dengan Sistem Bagi Hasil

A

Redaksi

16 November 2025, 00:00 WIB

ADVERTISEMENT
Iklan disini

Data menunjukkan bahwa lebih dari 70% investor baru di sektor makanan dan minuman (F&B) cenderung terhenti atau mengalami kerugian signifikan pada dua tahun pertama operasional mereka. Penyebab utamanya bukan pada kualitas produk, melainkan struktur biaya tetap yang terlalu membebani, terutama royalti dan biaya manajemen di awal.

Sistem franchise tradisional, yang seringkali menuntut modal awal besar dan biaya royalti tetap bulanan, secara inheren menempatkan beban risiko yang jauh lebih besar pada pihak investor (franchisee).

Kondisi ini memicu munculnya inovasi model bisnis yang jauh lebih adil dan berorientasi pada kinerja nyata. Inilah yang mendorong popularitas masif skema bagi hasil di industri kuliner modern.

Revolusi Investasi: Mengenal Konsep Franchise Makanan dengan Sistem Bagi Hasil


Sumber: Bing Images

Model bisnis bagi hasil (revenue sharing atau profit sharing) sepenuhnya mendefinisikan ulang hubungan antara pemilik merek (franchisor) dan investor.

Alih-alih membebankan biaya tetap yang harus dibayar terlepas dari performa penjualan, sistem ini menekankan pada pembagian keuntungan bersih yang dihasilkan bersama.

Ini adalah solusi yang lahir dari kebutuhan pasar untuk mitigasi risiko. Konsep ini menjamin bahwa franchisor hanya akan mendapatkan pemasukan yang besar jika gerai franchisee tersebut juga meraih keuntungan yang besar.

Mengapa Bagi Hasil Lebih Menarik daripada Royalti Tetap?

Dalam skema royalti tradisional, investor wajib membayar persentase tertentu dari omset kotor setiap bulan (misalnya, 5% dari total penjualan), bahkan jika gerai tersebut sedang merugi.

Kontrasnya, model franchise makanan dengan sistem bagi hasil berfokus pada profit, bukan hanya revenue. Pembagian dilakukan setelah seluruh biaya operasional (sewa, gaji, bahan baku) dikurangi.

Keuntungan utamanya adalah insentif yang selaras. Franchisor memiliki kepentingan yang jauh lebih tinggi untuk memastikan operasional gerai berjalan efisien, margin tinggi, dan promosi efektif.

Kepentingan bersama ini secara fundamental mengubah dinamika bisnis, mempromosikan kolaborasi yang lebih erat dan didasarkan pada data kinerja harian yang akurat.

Membongkar Mekanisme Kerja Model Bisnis Berbagi Keuntungan

Ilustrasi diagram alir proses pembagian keuntungan bersih dalam model franchise
Sumber: Bing Images

Implementasi model bagi hasil memerlukan transparansi data keuangan yang ketat, seringkali didukung oleh sistem Point of Sale (POS) terintegrasi dan akuntansi yang terbuka.

Langkah pertama adalah menentukan persentase pembagian yang adil. Rata-rata persentase bagi hasil di Indonesia berkisar antara 40:60 hingga 50:50, bergantung pada kontribusi modal awal dan manajemen operasional.

Jika franchisor hanya menyumbang merek dan sistem, tetapi operasional harian dipegang penuh oleh franchisee, pembagian akan cenderung lebih besar untuk franchisee.

Risiko yang ditanggung bersama ini menjadi daya tarik utama model franchise makanan dengan sistem bagi hasil bagi investor pemula yang enggan menanggung kerugian sendirian di fase awal.

5 Pilar Keberhasilan Implementasi Sistem Bagi Hasil

Keberhasilan model ini bergantung pada beberapa faktor kunci, melampaui sekadar perjanjian legal. Berikut adalah pilar-pilar yang harus dipastikan ada sebelum berinvestasi:

  1. Audit Keuangan Terintegrasi: Pastikan sistem POS dan pencatatan keuangan tersambung langsung dan dapat diakses kedua belah pihak secara real-time. Tanpa data yang tidak dapat dimanipulasi, bagi hasil tidak akan berjalan.
  2. Definisi Profit yang Jelas: Perjanjian harus merinci pos-pos biaya mana saja yang termasuk dalam perhitungan keuntungan bersih. Ini mencegah sengketa mengenai biaya tak terduga (misalnya, biaya pemasaran pusat).
  3. Dukungan Operasional Intensif: Karena franchisor kini berkepentingan langsung dengan profitabilitas, mereka wajib menyediakan pelatihan, pemeliharaan standar, dan dukungan pemasaran yang lebih kuat.
  4. Strategi Exit yang Fleksibel: Tentukan batasan waktu dan kondisi di mana salah satu pihak dapat keluar dari perjanjian tanpa merusak merek, misalnya setelah 5 tahun atau jika profit tidak tercapai dalam 12 bulan berturut-turut.
  5. Alokasi Dana Cadangan: Dana cadangan wajib dialokasikan dari keuntungan bersih sebelum dibagi, untuk menutup biaya perbaikan mendesak atau peningkatan kualitas inventaris.

Model ini menuntut level kepercayaan yang tinggi, namun data menunjukkan bahwa kolaborasi yang terstruktur mampu menghasilkan pertumbuhan omset yang lebih stabil dibandingkan sistem royalti tetap.

Studi Kasus dan Prospek Masa Depan Franchise Makanan dengan Sistem Bagi Hasil

Ilustrasi pertumbuhan pasar F&B yang cepat dan model bisnis inovatif
Sumber: Bing Images

Pertumbuhan model franchise makanan dengan sistem bagi hasil menunjukkan pergeseran paradigma investasi, terutama di sektor F&B yang sensitif terhadap biaya bahan baku yang fluktuatif.

Di Asia Tenggara, banyak merek kuliner cepat saji dan minuman kekinian yang menerapkan skema ini. Mereka berhasil menarik investor muda yang memiliki kemampuan manajerial tetapi minim modal besar di awal.

Konsep ini sangat cocok untuk bisnis yang memiliki potensi skala tinggi namun menghadapi persaingan ketat, di mana optimalisasi margin sangat krusial.

Model ini juga memberikan daya tahan yang lebih baik saat terjadi gejolak ekonomi, seperti pandemi. Ketika profit turun, beban biaya tetap bagi investor juga ikut turun, membantu gerai bertahan lebih lama.

Kunci Memilih Mitra Terbaik

Memilih merek franchise makanan dengan sistem bagi hasil memerlukan kehati-hatian ekstra, mengingat kompleksitas perjanjiannya. Analisis data historis menjadi sangat penting.

Calon investor harus meninjau rekam jejak keuangan gerai-gerai yang sudah ada. Fokuskan pada rasio Net Profit Margin (NPM) rata-rata, bukan hanya pada omset kotornya.

Beberapa poin yang harus menjadi perhatian serius dalam memilih mitra franchise meliputi:

  • Kepemilikan Merek: Pastikan merek tersebut terdaftar dan memiliki intellectual property (IP) yang kuat.
  • Sistem Pelaporan: Apakah sistem pelaporan keuangannya bersifat real-time dan immutable (tidak dapat diubah)?
  • Dukungan Pemasok: Periksa apakah franchisor mendapatkan diskon yang signifikan dari pemasok, yang secara langsung akan meningkatkan profit bersih Anda.
  • Struktur Biaya Awal: Walaupun royalti dihapus, pastikan biaya initial fee dan investasi peralatan berada dalam batas wajar industri.
  • Uji Tuntas Hukum: Selalu libatkan konsultan hukum untuk meninjau detail kontrak bagi hasil, terutama yang berkaitan dengan klausa kerugian dan audit.

Skema ini memang meniadakan biaya bulanan yang mencekik. Namun, komitmen terhadap transparansi dan audit wajib menjadi prioritas utama bagi kedua belah pihak.

Franchisee yang sukses dalam model ini adalah mereka yang mampu berkolaborasi secara intensif dengan franchisor, menggunakan data profitabilitas sebagai panduan utama pengambilan keputusan.

Kesimpulan

Memilih skema franchise makanan dengan sistem bagi hasil adalah keputusan strategis yang mengakui realitas keras industri F&B: profitabilitas adalah raja, bukan sekadar omset.

Model investasi inovatif ini menyediakan jembatan yang lebih aman bagi para investor yang ingin memanfaatkan tingkat keberhasilan waralaba, tanpa terbebani risiko biaya tetap yang tinggi.

Ini bukan hanya tren, melainkan evolusi logis dari bisnis waralaba yang lebih adil, transparan, dan berorientasi pada kinerja jangka panjang.

Inilah saatnya mengoptimalkan potensi pasar yang besar melalui format franchise makanan dengan sistem bagi hasil. Bagi mereka yang cerdas membaca data, model ini menjanjikan potensi return yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Pastikan Anda melakukan due diligence mendalam dan memilih merek yang membuktikan komitmennya terhadap transparansi data. Keberhasilan Anda dalam bisnis ini akan sepenuhnya bergantung pada keuntungan bersih yang Anda hasilkan bersama.

Bagikan:
ADVERTISEMENTIklan disini
Path:Home/Franchise/Memahami Model Franchise Makanan dengan Sistem Bagi Hasil